Back

Lulusan Terbaik Arsitektur ITN Malang Rancang Inkubator Sosial Ekonomi di Lumajang untuk Perluas Akses dan Kesempatan Masyarakat

Muchammad Alif Romdhoni lulusan terbaik Arsitektur S-1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pada Wisuda ke 76 Periode II Tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Bukan gedung tinggi atau pusat perbelanjaan mewah yang dipikirkan Muchammad Alif Romdhoni saat menggarap tugas akhirnya. Lulusan terbaik Arsitektur S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ini justru memilih merancang Inkubator Sosial Ekonomi di Lumajang. Dhoni, sapaan akrabnya, merasa gelisah melihat kesenjangan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat. Hal ini khususnya terjadi di Lumajang, dengan potensi sumber daya alam, karakteristik ekonomi, serta tingkat upah yang menjadi pertimbangan utama dalam perancangannya.

Melalui sentuhan sederhana namun kontekstual, peraih IPK 3.94 ini merancang gedung terpadu agar semua kalangan memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan, pelatihan kerja, hingga layanan kesehatan yang sama. Proyek arsitektur yang dibimbing oleh dosen Hamka, ST., MT., dan Sri Winarni, ST., MT., ini menerapkan metode Problem Seeking dan pendekatan Placemaking untuk menerjemahkan persoalan sosial ke dalam kebutuhan dan kualitas ruang. Konsep tersebut diterjemahkan melalui ruang publik yang terbuka, terhubung, dan dirancang untuk mendorong interaksi antarkelompok masyarakat

Baca Juga : Tim Debat Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Juara 3 Lomba Debat Malang Architecture Week (MAW) 2024

Sebagai mahasiswa arsitektur, Dhoni melihat bahwa persoalan tersebut tidak hanya dapat dijawab melalui program sosial, tetapi juga melalui bagaimana ruang dirancang. “Jujur, saya melihat permasalahan yang dirasakan masyarakat kita itu soal kesempatan. Akses antara kelas bawah dan atas itu sering terpisah kasta,” cerita Dhoni yang ikut diwisuda pada wisuda ke 76 periode II tahun 2026, pada 19 September 2026 lalu. Selain menjadi lulusan terbaik Arsitektur, ia juga menjadi lulusan terbaik Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang.

Gedung terpadu rancangan Muchammad Alif Romdhoni mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang. (Foto: Istimewa)

Untuk itu Dhoni mencoba menerjemahkan persoalan tersebut melalui arsitektur dan pendekatan perilaku komunitas. Menurutnya, ketika berbagai kelompok masyarakat dapat berkumpul dalam satu ruang yang terbuka dan setara, interaksi dan pertukaran informasi dapat terjadi lebih mudah. Begitu sudah berkumpul dalam satu wadah, pandangan soal kasta itu memudar.

“Di inkubator ini, semua orang bisa saling bertukar informasi, dapat pelatihan digital marketing, kuliner, kerajinan, bahkan terdapat klinik dan ruang bazar yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas ekonomi,” lanjutnya.

Semangat Dhoni merancang karya ini tak lepas dari peran kampus yang selama ini mendorong mahasiswanya melahirkan inovasi yang memberi kontribusi langsung serta kebermanfaatan nyata bagi pemukiman dan masyarakat luas.

Ketekunan Dhoni di bidang arsitektur dan pengalaman menerapkan ilmu perancangan juga sudah teruji sejak bangku kuliah. Selain aktif di UKM Lembaga Dakwah Islamiyah (LDI) dan Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA), ia pernah menyabet Juara 1 War Architecture serta Juara 3 Lomba Debat di Malang Architecture Week (MAW) 2024. Kerennya lagi, alumnus SMA Al Muqoddasah Ponorogo, asal Sidoarjo, Jawa Timur ini sudah sering menerima proyek freelance, mulai dari merancang retail FnB, toko skincare, interior kantor PLN, hingga terlibat dalam tim revisi fasad dan gerbang Kampus 1 ITN Malang.

Baca Juga : Tim Mahasiswa ITN Malang Juara 1 War Architecture, Malang Architecture Week 2024

Meski punya rekam jejak mentereng dan sudah mengantongi tawaran kerja sebelum wisuda, Dhoni tetap rendah hati. Baginya, nilai IPK tinggi maupun gelar lulusan terbaik hanyalah bonus dari proses belajar yang ia jalani secara maksimal.

“Sebetulnya saya tidak terlalu euforia. Nilai itu bukan hal utama yang saya cari, tapi betul-betul ketika ada kesempatan saya maksimalkan. Kalau di perkuliahan, prinsip saya membagi waktu itu tidak boleh setengah-setengah. Kalau sedang pegang proyek ya 100 persen, kuliah 100 persen, dan kalau ada waktu kosong betul-betul saya manfaatkan total,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan alasannya mantap memilih ITN Malang sejak awal adalah karena jejaring alumninya yang sangat kuat dan menduduki posisi strategis, terutama di wilayah Malang Raya.

“Kuliah di sini itu seperti simulasi seberapa padat tuntutan di lapangan nanti. Bedanya, kalau di kampus masih ada dosen pembimbing yang memberi masukan kalau kita salah. Tapi ketika masuk dunia kerja, tuntutan terhadap ketelitian dan tanggung jawab tentu jauh lebih besar. Pengalaman dan bimbingan selama di ITN Malang benar-benar jadi modal berharga buat saya,” tutupnya. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023