Back

Perjalanan Inspiratif Sungsang Bagus Nugroho: Dari Pekerja Lapangan dan Tour Guide Bromo hingga Jadi Lulusan Terbaik Teknik Geodesi ITN Malang

Sungsang Bagus Nugroho, lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pada wisuda ke 76 periode II tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Sempat menunda mimpi melanjutkan studi ke perguruan tinggi selama lima tahun usai lulus sekolah menengah tak lantas memadamkan semangat Sungsang Bagus Nugroho. Anak kedua dari tiga bersaudara asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini justru berhasil membuktikan bahwa setiap orang memiliki garis waktu perjuangannya masing-masing.

Putra dari pasangan Rismanto, seorang petani, dan Tiwik Mujiati, ini resmi dikukuhkan sebagai lulusan terbaik Program Studi Teknik Geodesi S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) dengan IPK 3,75. Ia ikut diwisuda pada Wisuda ITN Malang ke 76 Tahun 2026 pada 19 September lalu.

Perjalanan Sungsang menggapai gelar Sarjana Teknik bukanlah jalan pintas yang serba mudah. Alumnus SMK YPP Purworejo ini sempat melakoni dunia kerja cukup panjang di Jakarta, Jawa Tengah, hingga berbagai proyek survei luar pulau. Sejak tahun 2019, ia memantapkan kariernya di perusahaan konsultan PT Frasta Survey Indonesia. Dari yang awalnya bertugas sebagai asisten surveyor, berkembang menjadi surveyor, hingga dipercaya memegang data dan memimpin proyek.

Melihat performa dan dedikasi kerjanya yang berdedikasi, pihak perusahaan memberikan kesempatan berharga berupa beasiswa kuliah penuh pada tahun 2021. Karena profesinya menuntut keahlian bidang pemetaan, Sungsang berburu kampus yang memiliki jurusan geodesi dan akhirnya resmi berkuliah di ITN Malang pada tahun 2022.

Memulai perkuliahan di saat sudah memiliki pengalaman kerja lapangan memberikan keuntungan tersendiri bagi Sungsang. Ia merasa teori akademis di bangku kuliah justru melengkapi pengalaman praktis yang telah diterapkannya selama bertahun-tahun di proyek.

“Saya sudah masuk di pekerjaan, tapi dasar teorinya belum ada pegangan. Makanya pas masuk Geodesi, banyak yang klop antara pengalaman di lapangan dengan teori di kelas. Karena saya lebih tahu kondisi riil di lapangan, jadi lebih mudah memahami teori dibanding teman-teman yang lain,” ungkapnya.

Baca Juga : Kutai Barat Gandeng ITN Malang Petakan Kawasan Linggang Bigung, Targetkan Tata Ruang Presisi

Selama menempuh pendidikan S-1, Sungsang juga harus pandai membagi waktu antara kewajiban akademis, pekerjaan kantor, dan kegiatan sampingan. Ketika libur semester atau jadwal kuliah sedang senggang, ia tetap membantu pengolahan data atau sesekali turun ke lapangan. Tak hanya itu, sejak semester dua hingga menjelang kelulusan, Sungsang juga melakoni profesi sebagai tour guide sekaligus fotografer di kawasan Bromo untuk mencari penghasilan tambahan.

“Prinsipnya harus jujur ke kantor dan tahu skala prioritas. Saya minta izin ke manajer untuk ambil job tour guide di weekend dan unggah karya foto-video di sosmed. Saya ditantang, boleh ambil kerjaan lain asal nilai kuliah harus tetap bagus. Hasilnya alhamdulillah, selain tidak minta uang ke orang tua, saya juga bisa bantu finansial orang tua selama kuliah,” tuturnya.

Prestasi Sungsang di kampus pun mentereng. Ia bersama tim kolaborasi mahasiswa Teknik Geodesi dan Teknik Elektro lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2023 lewat inovasi alat Pembersih Otomatis Modul Surya (POM SURYA).

Dedikasi keilmuannya kian teruji melalui penyusunan skripsi berjudul “Evaluasi Ketelitian Ortofoto dari Hasil Pemotretan Drone Menggunakan Minimum GCP dan Non-GCP (Mode RTK) Terhadap Hasil Ortofoto dengan GCP Tersebar Merata (Studi Kasus: Desa Tadang Palie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan)” di bawah bimbingan M. Edwin Tjahjadi, ST., M.Geom.Sc., Ph.D., dan Adkha Yuliandha M., ST., MT.

Sungsang Bagus Nugroho mahasiswa Teknik Geodesi ITN Malang saat melaksanakan proyek pesawat udara nir awak (Drone) untuk pemetaan dan survei. (Foto: Istimewa)

Dalam risetnya, Sungsang mengangkat studi kasus proyek pemetaan tempatnya bekerja. Ia mengevaluasi efisiensi teknologi pemetaan udara menggunakan drone berteknologi Real-Time Kinematic (RTK) untuk meminimalkan penggunaan titik kontrol tanah (Ground Control Point/GCP) di lokasi yang sulit dijangkau.

“Teknologi fotogrametri kedepannya pasti lebih banyak pakai drone. Penggunaan alat konvensional akan berkurang. Di lapangan, sinyal GPS penggunaan drone sangat bergantung pada efek multipath dan kerapatan vegetasi daerah sekitar,” jelasnya.

Baca Juga : LiDAR for Mapping: Teknologi Lidar untuk Pemetaan Akurat

Dari hasil riset, penggunaan metode RTK tanpa GCP maupun dengan GCP minimum terbukti menghasilkan ketelitian sangat tinggi yang memenuhi standar Peta Dasar Skala 1:1.000 Kelas 1 Badan Informasi Geospasial (BIG). Ini bisa menekan budgeting proyek secara signifikan karena memangkas waktu dan jumlah patok GCP di lapangan.

Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Teknik, Sungsang memutuskan untuk kembali berkarya dan mengabdi secara penuh di PT Frasta Survey Indonesia. Langkah ini juga didorong oleh kepeduliannya terhadap regenerasi tenaga ahli geodesi muda di dunia industri.

“Untuk orang yang suka jalan-jalan dan tantangan alam, geodesi itu sangat cocok. Kita belajar teknis koordinat sekaligus bersosialisasi dengan warga lokal. Walau tantangannya jauh dari keluarga dan waktu cukup tersita, tapi disinilah letak seninya. Jeda lima tahun kemarin bukan berarti tertinggal, tapi ruang untuk tumbuh dan membuktikan bahwa semua ada waktunya masing-masing,” pungkas Sungsang penuh optimisme. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023