Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Ukur Denah Rumah Tinggal Kayutangan Sebagai Objek Destinasi Wisata Heritage

Prof Dr Ir Lalu Mulyadi, MT dosen Arsitektur ITN Malang (rompi krem) bersama mahasiswa Arsitektur berada di Kampung Kayutangan, Kota Malang, pada Agustus 2021 yang lalu. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Sebanyak 15 mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang terlibat dalam survey bangunan heritage di Kampung Kayutangan, Kota Malang. Mahasiswa semester 5 dan 7 ini mendapat pengarahan mekanisme survey bangunan heritage langsung di lokasi Kampung Kayutangan oleh Prof Dr Ir Lalu Mulyadi, MT dan Ir Budi Fathoni ST MTA, dosen Arsitektur ITN Malang.

Survey dan pengukuran bangunan heritage di Kampung Kayutangan merupakan tindak lanjut dari riset eksternal yang diketuai oleh Prof Dr Ir Lalu Mulyadi, MT. Keterlibatan mahasiswa Arsitektur adalah untuk melakukan pengukuran masing-masing hunian sehingga mendapat data teknis (data perencanaan struktur bangunan) seperti data tanah, bahan bangunan yang digunakan, dan lain-lain.

Menurut Ir Budi Fathoni ST MTA, data teknis yang diambil dari hunian Kampung Kayutangan adalah data bangunan yang dinilai sebagai bangunan tua dan memiliki sejarah. Bangunan yang dinilai sebagai bangunan tua dan bersejarah selama ini blueprint-nya (cetak biru) tidak ada.

“Kegiatan survey dan pengukuran untuk menindaklanjuti data dokumen teknis, bahwa bangunan itu memiliki nilai heritage. Dan, saya senang sekali karena Prof Lalu Mulyadi secara akademis melibatkan mahasiswa untuk survey dan pengukuran. Bahkan Prof Lalu rutin ke lapangan,” ujar Budi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.

Baca juga : Prof Lalu Mulyadi Terbitkan Buku Kebijakan Konservasi Heritage, Bantu Pecahkan Permasalahan Kampung Kayutangan

Mahasiswa Arsitektur akan mendata bangunan di empat RT, yakni RT 2, RT 4, RT 9, dan RT 10. Ada sekitar 40 lebih bangunan yang rencana di survey, dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah. Mereka akan mengukur bangunan apa adanya, termasuk pembagian ruang, serta bangunan tampak depan.

“Jadi mahasiswa akan mengukur denah rumah tinggal sesuai dengan kondisi eksisting (apa adanya). Sekaligus gambar tampak depan. Kemudian akan dinilai, bangunan tersebut termasuk berusia tua atau tidak. Sehingga karakter bangunan akan muncul. Selama ini (data) tidak ada. Bahkan sertifikatnya warga tidak punya,” jelas Budi.

Ir Budi Fathoni ST MTA, dosen Arsitektur ITN Malang. (Foto: Mita/humas)

Menariknya menurut Budi, masyarakat Kampung Kayutangan masih mempertahankan rumah sesuai kondisi asli tanpa ada perubahan. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik berbagai perguruan tinggi untuk mendampingi Kampung Kayutangan seperti halnya ITN Malang.

“Semoga hasil dari riset ini menjadikan kampung (Kayutangan) dengan label heritage bisa menjadi contoh beberapa kampung di Indonesia. Karena untuk riset yang berbasis kampung masih jarang. Ini menjadi satu proses panjang ketika saya belajar tentang heritage,” harap Budi.

Baca juga : Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Buat Peta Wisata Kampung Heritage Kayutangan

Dikatakan Budi, warga kampung Kayutangan ternyata memberikan respon positif untuk turut menjaga dan melestarikan bangunan cagar budaya. Harapannya, peran serta pemerintah semakin aktif dalam pembinaan agar bangunan cagar budaya terjaga. “Semoga pemerintah memberikan pembinaan yang kontinyu kepada warga (Kampung Kayutangan). Tidak hanya seremonial, itu yang penting,” tandas Budi. (me/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print