Agar Tak Gagap Teknologi, Teknik Geodesi Kenalkan Teknologi Geodetik pada Mahasiswa

Ketua Prodi Teknik Geodesi S-1 ITN Malang, Silvester Sari Sai, ST MT (baju putih) sedang melihat cara kerja Leica iCON ICB70. (Foto:Yanuar/humas) 


Malang, ITN.AC.ID – Mahasiswa Teknik Geodesi S-1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang terlihat berkelompok mengitari beberapa peralatan survei dan pemetaan di lapangan basket Kampus 1 ITN Malang. Mereka serius memperhatikan vendor yang sedang menerangkan fungsi masing-masing peralatan. Ada tiga jenis peralatan survei dan pemetaan yang dijelaskan kepada mahasiswa. Yakni, total stations manual, laser scanners, dan GNSS RTK.

Ketua Prodi Teknik Geodesi S-1, Silvester Sari Sai, ST MT menyatakan, secara berkala Teknik Geodesi melakukan kegiatan pengenalan dan pelatihan dengan mendatangkan vendor perusahaan peralatan di bidang survei dan pemetaan. Untuk memberikan informasi perkembangan peralatan, khususnya pemanfaatan peralatan terbaru dan tercanggih. Sehingga, mahasiswa dapat memahami proses dan akuisisi data di lapangan secara cepat dengan kualitas yang tinggi.

“Kegiatan pengenalan peralatan survei dan pemetaan seperti ini rutin kami lakukan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Sehingga mahasiswa update terhadap peralatan, yang nantinya akan sering mereka temui saat di lapangan atau pada saat mereka sudah bekerja,” ujar Silvester saat ditemui di sela-sela pengenalan alat, Kamis (14/10/2021). Untuk mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini adalah mahasiswa yang berada di Kota Malang khususnya semester 3 dan 5, serta beberapa mahasiswa semester 7 yang mengambil program skripsi. 

Menurut Silvester, terbaru Teknik Geodesi mengupdate peralatan pada tahun 2021. “Terakhir kami mengupdate peralatan di tahun ini, 2021. Khususnya untuk peningkatan di bidang survei geodetik. Jadi Teknik Geodesi mempunyai juga peralatan GPS geodetik RTK dan juga peralatan total station,” lanjutnya.

Vendor peralatan survei dan pemetaan kali ini yang dihadirkan adalah Leica Geosystems Indonesia (LGI) dan PT Aditama Jasa Bahana (AJB) anak perusahaan dari PT Leica. Serta didukung oleh Ikatan Alumni Teknik Geodesi ITN Malang. “Geodesi mempunyai ikatan alumni yang kuat, support mereka luar biasa. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk adik-adik mahasiswa, seperti hari ini pengenalan alat. Namun, alumni juga memberi hibah untuk pengembangan kemampuan mahasiswa, dan ketika mahasiswa sudah lulus ada juga yang langsung direkrut,” tutupnya.

Sementara itu Ade Ferdianto Hidayat dari Leica Geosystems Indonesia mengatakan, peralatan yang dikenalkan kepada mahasiswa kali ini merupakan keluaran tahun 2019 dengan software di awal 2021. “Yang saya pegang dan kenalkan ini Leica iCON. Sesuai namanya alat ini dikhususkan untuk konstruksi. Kalau dilihat biasanya Leica warnanya hijau. Maka, total station yang warnanya hijau untuk geodetik, kalau kuning untuk konstruksi. Masing-masing alat mempunyai fungsi sendiri-sendiri sesuai kebutuhannya,” jelas Ade sambal menunjuk peralatan yang lain.

Baca juga : Putri Bali jadi Lulusan Terbaik, Kaji Perubahan Kawasan Resapan Air Kota Denpasar Bali

PT Leica sendiri bergerak dalam penyediaan alat survei pengukuran di atas permukaan tanah, dan di bawah permukaan tanah. “Karena perkembangan alat juga mengikuti perkembangan teknologi. Hari ini selain kami memperkenalkan kepada mahasiswa agar ketika lulus tidak gagap teknologi. Kami juga memperkenalkan alat kepada perwakilan instansi yang bersinggungan dengan alat-alat tersebut,” lanjut Ade.

Kika: Ali Swastanta Hadijaya, S.T Ketua Ikatan Alumni Teknik Geodesi ITN Malang dan Ade Ferdianto Hidayat dari Leica Geosystems Indonesia saat memberikan keterangan fungsi Leica iCON ICB70 kepada mahasiswa. (Foto:Yanuar/humas)

Hal senada juga disampaikan oleh Ali Swastanta Hadijaya, S.T Ketua Ikatan Alumni Teknik Geodesi ITN Malang. Menurutnya, pengenalan alat selain untuk mahasiswa Teknik Geodesi juga diikuti oleh beberapa perwakilan dari Pemkot Malang, Polinema Malang, serta beberapa perusahaan pemetaan. Pengenalan alat ini juga bertepatan dengan agenda roadshow dari vendor alat.

“Tadi sudah dijelaskan di kelas mengenai spesifikasi alat dan lain-lain. Baru kemudian peserta bersama-sama mencoba untuk praktek dengan objek bangunan,” ujar Pimpinan KJSKB Ali Swastanta Hadijaya dan Rekan ini.

Baca juga : Meski Maju, Teknologi Fasade Indonesia belum Sejajar dengan Luar Negeri

Dikatakan Adi, kesempatan mahasiswa untuk mengenal peralatan baru dari vendornya langsung sangat terbatas. Padahal di dunia kerja geodetik akan bersinggungan dengan peralatan tersebut. Perlu diakui bahwa informasi saat ini begitu banyak yang bisa diakses. Tetapi kesempatan mengaplikasikan langsung sangat terbatas. 

“Dari pengenalan alat ini diharapkan mahasiswa bisa melihat perkembangan teknologi terbaru. Maka, mahasiswa semestinya berlomba-lomba untuk mencoba jika ada kesempatan. Biar terbiasa, sehingga saat terjun ke dunia kerja mereka tidak canggung dengan alatnya,” pungkasnya. (me/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print