Tekan Cyberbullying, M Fitra Rizki Kembangkan Sistem Berbasis Website

M Fitra Rizki lulusan terbaik Teknik Informatika S-1 ITN Malang, pada wisuda ke-66 periode II tahun 2021. (Foto: Yanuar/humas) 


Malang, ITN.AC.ID – Media sosial menjadi sarana bergaul secara online. Selain menjalin pertemanan, media sosial juga digunakan orang untuk berbagai alasan. Seperti untuk mencari informasi dengan cepat, mengekspresikan diri, bersenang-senang, menyampaikan pendapat sekaligus kritik, dan masih banyak lagi. Salah satu media sosial yang tergolong cepat dalam merespon berita dan informasi adalah Twitter.

Namun sayangnya, Twitter tidak hanya berdampak positif, tetapi juga berdampak negatif bagi pengguna maupun non pengguna. Salah satunya adalah fenomena cyberbullyingCyberbullying (perundungan maya) merupakan bentuk bullying/perundungan atau intimidasi untuk melecehkan korban melalui media digital. Cyberbullying ini jugalah yang diteliti Muh. Fitra Rizki lulusan terbaik Teknik Informatika S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Menurutnya, korban yang mengalami cyberbullying akan mengalami gangguan fisik hingga psikologis seperti kesepian, kegelisahan, depresi yang lebih tinggi, dan merasa harga dirinya rendah. Selain itu korban yang mengalami cyberbullying juga akan merasakan tekanan sehingga menunjukkan keinginan untuk bunuh diri karena depresi.

“Saya memilih Twitter, karena Twitter di Indonesia menunjukkan peningkatan jumlah penggunaan dan jumlah interaksi. Banyak sekali berita dan informasi yang dapat direspon dengan cepat dan tepat dari berbagai sudut pandang. Twitter juga memudahkan pengguna untuk mengakses berita nasional dan politik terbaru, serta opini publik yang tidak dimuat di koran maupun televisi. Di Twitter orang (acap ditemui) menggunakan kata-kata kasar dan menghina, tanpa mempertimbangkan kesopanan, dan etika profesi. Dampak dari kebebasan ini menjadi celah cyberbullying,” jelas Fitra saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp beberapa waktu lalu.

Pemilik IPK 3.77 ini mengatakan, di Indonesia masih sulit ditemukan data cyberbullying secara menyeluruh pada platform media sosial Twitter. Namun, baru-baru ini pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Polri mulai tertanggal 24 Februari 2021 telah meresmikan beroperasinya polisi virtual. Tugasnya melacak dan memberikan peringatan kepada pengguna yang mengunggah postingan baik berupa teks maupun gambar yang berpotensi melanggar pidana UU ITE.

Dalam penelitiannya pria asal Lombok Tengah ini melakukan proses analisis sentiment cyberbullying yang disampaikan oleh pengguna pada media sosial Twitter dengan mengembangkan sistem berbasis website. Untuk mengklasifikasikan sentimen menggunakan metode support vector machine (SVM).

“Dari masalah tersebut, maka sistem aplikasi yang saya kembangkan memiliki beberapa fitur, yaitu fitur crawling data dari Twitter. Kemudian memproses data yang nantinya akan menghasilkan klasifikasi tweet cyberbullying atau non cyberbullying. Sistem ini bertujuan untuk mendeteksi opini netizen Twitter yang menggunakan kata-kata kasar, menghina, dan mengandung sara yang berpotensi unsur cyberbullying,” lanjut putra pasangan H. Rohaidi, dan Rohaini Puspita ini.

Baca juga : Teknik Informatika S-1 Gandeng Tiga Kampus dalam Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Cara kerja aplikasi dengan menginputkan file data tweet netizen berupa konten tweet dengan memasukkan keyword hashtag yang berpotensi menimbulkan cyberbullying, seperti #cebong atau #kadrun, dan tidak melebihi 100 data tweet. Bisa berformat excel maupun CSV, atau melakukan crawling data langsung dari Twitter dengan menginputkan hashtag. Selanjutnya, data tersebut akan diproses menggunakan metode support vector machine yang merupakan salah satu metode kecerdasan buatan atau machine learning. Sedangkan output-nya berupa klasifikasi sentiment cyberbullying atau non-cyberbullying dari setiap tweet yang sudah melewati proses text preprocessing dan pembobotan teks dengan TF-IDF.

Sehingga, aplikasi mampu membedakan opini negatif dan positif, dengan menggunakan variabel kata-kata kasar, menghina, dan atau mengandung sara. Setelah diproses aplikasi ini akan menyajikan output data yang sudah dilabeli positif atau negatif. Atau, data yang sudah dilabeli tersebut apakah merupakan cyberbullying atau non cyberbullying.

Contoh analisis sentiment cyberbullying dari tweet pada halaman data latih yang dikembangkan oleh M Fitra Rizki. (Foto: Istimewa)

“Keunggulan aplikasi yang saya kembangkan adalah sudah menerapkan kecerdasan buatan dan berbasis website dengan tingkat akurasi sebesar 75% yang dapat diakses secara realtime oleh siapapun. Di mana nanti secara tidak langsung sistem ini dapat membangun mindset berpikir sebelum bertindak di media sosial Twitter,” katanya yang membutuhkan waktu 6 bulan untuk menyelesaikan aplikasi tersebut.

Rencananya proyek aplikasi ini akan ditawarkan sebagai model on job training (OJT) untuk bergabung dengan startup bidang natural language processing (NLP) yang menerapkan kecerdasan buatan dalam aplikasi bahasa.

Baca juga : Agar Tak Gagap Teknologi, Teknik Geodesi Kenalkan Teknologi Geodetik pada Mahasiswa

“Saya berharap kedepannya semakin banyak mahasiswa dari Prodi Teknik Informatika yang tertarik mengembangkan kecerdasan buatan bidang natural language processing. Baik untuk tujuan skripsi maupun ajang kompetisi,” aku Fitra sebagai mahasiswa perdana yang mengangkat bidang NLP. Fitra lulus dengan memuaskan dibawah bimbingan Karina Auliasari, ST M Eng  dan Renaldi Primaswara Prasetya, S Kom M Kom. (me/Humas ITN Malang)

 501 total views,  7 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC