Ada Notif! dari Mahasiswa PWK ITN Malang

Andini Putri Antartika (kiri), dan Mariska Amalia, mahasiswa PWK ITN Malang menunjukkan hasil karya timnya saat acara PWK Exhibition 2022. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Ada Notif merupakan kepanjangan Aneka Daya Tarik Ekonomi Kreatif. Merupakan Majalah Tata Ruang (Mata Ruang) karya mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang yang ikut dipamerkan pada PWK Exhibition Juli 2022 lalu.

Satu paket dengan Mata Ruang: Ada Notif adalah Album Peta 2022 Sektor Ekonomi Kreatif Perencanaan Pembangunan Industri Becak Kayu Batik, dan peta berjudul Berbudaya Lintas Bisnis Sektor Ekonomi Kreatif, Kabupaten Klaten. Tiga produk ini merupakan karya dari Yeribettus Bagio, Andini Putri Antartika, Mariska Amalia, dan Rekananda Putri. Mereka merupakan mahasiswa semester 6 PWK ITN Malang yang bersama rekan satu angkatan lainnya melaksanakan mata kuliah studio wilayah di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah selama 14 hari.

Baca juga : PWK ITN Malang Pamerkan Puluhan Karya Mahasiswa, Mulai Maket Hingga Majalah

Dalam studio wilayah masing-masing tim mengangkat tema berbeda-beda. Ada yang mengupas  ekonomi kreatif, pertambangan, perkebunan, tanaman pangan, dan lain sebagainya. Sedangkan tim Andini dan Mariska mengangkat tema ekonomi kreatif. 

“Klaten memiliki bermacam-macam ekonomi kreatif. Ada kerajinan kecil, kerajinan tangan, ada juga makanan. Yang paling dominan sih handicraft, kerajinan tangan,” ujar Andiri Putri Antartika saat ditemui di stand yang menampilkan hasil karya timnya.

PWK Exhibition 2022: PWK ITN Malang Pamerkan Puluhan Karya Mahasiswa, Mulai Maket Hingga Majalah

Menurut Andini, para perajin yang mereka survei membuat handycraft miniatur berupa becak dari kayu, dan batik. Pemasarannya tidak hanya di dalam negeri, namun sudah sampai luar negeri. Melihat potensi dua handrikraf ini, maka timnya ingin menjadikan becak kayu sebagai sarana akomodasi di tempat-tempat wisata. 

“Becak biasanya (terbuat) dari besi. Ini inovasinya dari kayu, dan diatasnya diberi penutup batik khas Klaten. Jadi bukan miniatur lagi. Target pemasaran kami ke tempat-tempat wisata. Seperti Candi Borobudur, dan lain-lain,” jelasnya.

Selain merencanakan becak kayu batik mereka juga merencanakan penanaman pohon mahoni untuk ketersediaan bahan baku pembuatan becak. Dengan merencanakan pola ruang rencana hutan industri sesuai jenis tanahnya di wilayah pinggiran Kabupaten Klaten. “Kami merencanakan tidak hanya membuat becaknya saja. Tapi, juga sampai ketersediaan bahan bakunya,” imbuh mahasiswa asal Ternate ini.

Dijelaskan juga oleh Mariska Amalia, industri perencanaan becak kayu batik berkonsep Belibis (Berbudaya Lintas Bisnis). Berisi perencanaan struktur ruang, jaringan jalan, irigasi, telekomunikasi, listrik, jaringan pendukung kegiatan Ipal, sampah, dan lain sebagainya.

Baca juga : Dies Natalis ke 37, Prodi Teknik Geodesi ITN Malang Berharap Adanya Peningkatan Akreditasi, Keilmuan dan Teknologi

“Bisa dilihat dalam peta yang kami buat dengan konsep Belibis. Industri diangkat dari budaya tradisional Klaten yakni batik. Belibis juga menyangkut perencanaan pola ruang, pemukiman, kesehatan, pendidikan, peribadatan, dan lain-lain. Dengan konsep ini harapannya dapat membantu pemerintah setempat dan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Sehingga bisa membantu meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” beber mahasiswa asal Tulungagung ini. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print