
Bawa Konsep “Future Village Ecosystem” ke Panggung Dunia, ITN Malang Jadi Co-Host Helatan World Rural Development Day
Dosen PWK ITN Malang menjadi co-host, dan pembicara dalam perayaan World Rural Development Day 2026. (Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali membuktikan eksistensinya di kancah internasional. Kampus teknologi dan inovasi ini didapuk menjadi co-host dalam perayaan World Rural Development Day bersanding dengan institusi global seperti ARMTI Nigeria, USTM Meghalaya, dan Global Forum for Sustainable Rural Development (GFSRD). Kehadiran ITN Malang dalam forum ilmiah ini menjadi penegasan bahwa kontribusi pemikiran dari Indonesia diakui dunia luar dalam mengawal masa depan pembangunan kawasan perdesaan secara berkelanjutan.
Kontribusi Strategis Akademisi PWK di Kancah Global
Keterlibatan strategis ini tidak lepas dari peran aktif para akademisinya di Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yakni Dr. Maria Christina Endarwati, ST., MIUEM., dan Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT. Posisi aktif ITN di tingkat global diperkuat oleh rekam jejak Maria sebagai salah satu pendiri Asia Pacific Country Director di lembaga GFSRD. Sementara, Agustina Nurul Hidayati dalam kesempatan tersebut turut menjadi pembicara.
“Awal mula ITN bisa bersanding dikarenakan saya adalah salah satu founder GFSRD dan juga direktur untuk wilayah Asia Pasifik, sehingga ITN merupakan salah satu institusi yang sangat aktif terlibat dalam kegiatan pembangunan perdesaan,” ungkap Maria saat dihubungi lewat sambungan WhatsApp beberapa waktu lalu.
Maria menambahkan, keterwakilan ini mencerminkan komitmen penuh Prodi PWK ITN Malang untuk mempromosikan implementasi pembangunan berkelanjutan. “Sebagai co-host, tentunya keterlibatan kami mencerminkan bahwa PWK ITN Malang berkomitmen terlibat aktif dalam mempromosikan bagaimana kampus mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan dengan men-sharing pengalaman-pengalaman kami,” tuturnya.
Rekam Jejak Internasional dan Rencana Aksi Pasca-Simposium
Rekam jejak ITN Malang di panggung internasional memang bukan hal baru. Sebelum perhelatan akbar ini, Maria juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam ajang International Webinar pada 16 Mei 2026 yang diselenggarakan atas kolaborasi bersama The Federal Polytechnic Offa Nigeria serta GFSRD. Melalui jembatan ini pula, ITN Malang mengambil peran ganda, membawa nama Indonesia di tingkat global sekaligus mempromosikan peran aktif kampus dalam mengawal ruang hidup perdesaan.
Baca Juga : Rancang Kota Baru Pariwisata Wawiyai, ITN Malang dan Pemkab Raja Ampat Resmi Teken MoU
Menurut Maria, bagi Prodi PWK ITN Malang sendiri, simposium ini menjadi wadah untuk menyuarakan tiga pilar utama mereka ke level Asia-Afrika, yakni hasil riset tata ruang di Jawa Timur dan NTT, integrasi kurikulum berbasis SDGs, serta aksi nyata lewat KKN Tematik di desa binaan. Dampaknya, pemikiran-pemikiran dari ITN Malang mulai dilirik secara global, terbukti dengan diundangnya Maria secara langsung sebagai pembicara seminar internasional di Ilorin University, Afrika.
Ditambahkan, melangkah pasca-simposium, pihaknya sudah menyiapkan target yang konkret. Sebagai pemegang mandat GFSRD-Asia Indonesia, ITN berencana mengadaptasi 2-3 model desa tangguh dari Nigeria dan India untuk diterapkan di 5 desa binaan di Malang Raya. Selain itu, ada target besar untuk mendirikan GFSRD-Asia Hub di ITN Malang sebagai pusat data perdesaan se-Asia Tenggara, sekaligus menyusun kurikulum bersama (Rural Development Planning) lintas negara dengan USTM dan ARMTI. Kemitraan masa depan ini akan membuka peluang emas bagi mahasiswa dan dosen lewat program joint research serta student exchange ke luar negeri.
Gagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework
Sementara pada simposium kali ini, Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT., memaparkan sebuah artikel ilmiah yang menawarkan gagasan visioner bertajuk “Future Village Ecosystem Framework”. Kerangka kerja ekosistem desa masa depan ini dirancang sebagai model terintegrasi yang menggabungkan pertumbuhan hijau (green growth), pengembangan endogen berbasis potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, hingga inovasi digital. Melalui model ini, komunitas perdesaan didorong untuk berubah dari wilayah pinggiran menjadi motor penggerak utama pembangunan berkelanjutan yang memiliki dampak global.
Gagasan Visioner Future Village Ecosystem Framework Dosen PWK ITN Malang
Nurul, yang biasa akrab disapa menjelaskan, penelitian yang dibawakannya merupakan akumulasi dari pengabdian panjang rekan-rekan dosen ITN Malang. Riset tersebut mencakup studi di kawasan perbatasan Kecamatan Entikong (Kabupaten Sanggau) dan perdesaan Long Apari (Kabupaten Mahakam Ulu), Nusa Tenggara Timur, hingga pendampingan kampung kota serta desa di Malang Raya.
Baca Juga : Sinergi ITN Malang Hasilkan Produk Hukum Legalitas Industri Kecil dan Menengah Manggarai Timur
“Saya menyampaikan pengalaman yang pernah saya dan teman-teman dosen lakukan dalam penelitian dan pengembangan pada beberapa kawasan perdesaan. Pada simposium yang akan datang, saya berharap teman-teman dosen ITN Malang dapat berbagi pengalaman penelitian, rencana pengembangan dan pengabdian masyarakat pada kawasan perdesaan, secara langsung,” tutur Nurul penuh harap.
Ia juga menambahkan bahwa materi-materi berharga yang didapat dari simposium internasional ini akan diintegrasikan untuk memperkaya mata kuliah penting di PWK, seperti Community Development, Perencanaan Perdesaan, Perencanaan Kawasan, hingga Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)



