Back

Jadi “Detektif” Konstruksi: Mahasiswa Sipil ITN Malang Kupas Tuntas Forensic Engineering

Kuliah Tamu ECIVE 2026 Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), ITN Malang mengangkat tema “Peran Forensic Engineering dalam Mewujudkan Infrastruktur Aman dan Berkelanjutan”. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Ketika sebuah bangunan retak atau jembatan runtuh, siapakah yang paling dicari? Di dunia teknik sipil, mereka adalah Forensic Engineer alias detektifnya dunia konstruksi. Peran menantang inilah yang dikupas dalam Kuliah Tamu ECIVE 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) di Aula Kampus 1 pada Rabu (20/5/2026).

Menghadirkan Dr. Ir. Roland Martin Simatupang, ST., MT., M.Sc. (Dosen Teknik Sipil UB), acara ini menjadi bagian dari Civil Engineering Festival (CEF) 2026. Mengangkat tema penting, “Peran Forensic Engineering dalam Mewujudkan Infrastruktur Aman dan Berkelanjutan”.

Ketua Pelaksana, Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., menjelaskan, kompetensi ini sengaja dikenalkan sejak dini agar mahasiswa paham cara mengaudit struktur bangunan eksisting.

“Mahasiswa atau lulusan kita nanti harus tahu apa yang harus dilakukan kalau menemui bangunan yang rusak struktur. Kita perlu investigasi dulu lewat analisis struktur sebelum merencanakan perkuatan (retrofitting). Termasuk kalau ada rencana penambahan lantai, kekuatan struktur lamanya wajib dicek total,” jelas Vega.

Baca Juga : Ajang CEF Teknik Sipil ITN Malang Jadi Ruang Kreativitas dan Berburu Beasiswa DPP Up To 100% Pelajar Jawa-Bali

Perencana vs Detektif Struktur

Dalam paparannya, Roland mengajak peserta melihat teknik sipil dari dua sisi berbeda. Jika insinyur perencana (design engineer) fokus mendesain bangunan baru untuk masa depan, maka insinyur forensik justru bergerak ke masa lalu untuk membongkar misteri kegagalan struktur.

Dr. Ir. Roland Martin Simatupang, ST., MT., M.Sc., saat memberikan materi pada kuliah tamu ECIVE 2026 di Teknik Sipil ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)

“Ketika terjadi kerusakan bangunan, di situlah insinyur forensik masuk melakukan investigasi ilmiah untuk mencari akar masalahnya (root cause analysis) berdasarkan bukti lapangan,” urai Roland.

Ia menambahkan, kegagalan bangunan biasanya terjadi karena kombinasi banyak faktor, mulai dari kesalahan desain, korosi, kecerobohan pelaksanaan di lapangan, beban berlebih, hingga faktor alam seperti gempa bumi.

Modal dan Roadmap Karier

Menurutnya, menjadi detektif struktur tentu butuh modal kuat. Selain paham kode standar (SNI, ASTM, dll) dan mahir menggunakan tools analisis seorang insinyur forensik wajib memiliki integritas moral yang tinggi.

Baca Juga : Borong Juara di ECIVE ITN Malang 2026: Pembuktian Ketangguhan Siswa SMK Sore Tulungagung dan SMAN 1 Pamekasan

“Insinyur forensik itu harus objektif, independen, dan siap menjadi saksi ahli (expert witness),” tegasnya.

Kuliah tamu ini sukses membuka mata para calon insinyur baru ITN Malang bahwa setiap kegagalan bangunan selalu meninggalkan jejak teknis. Dari kegagalan itulah, dunia teknik sipil justru belajar banyak untuk menciptakan infrastruktur masa depan yang jauh lebih aman. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023