Back

Momen HUT ke-81 RI, ITN Malang Anugerahi Penghargaan Masa Pengabdian hingga 40 Tahun bagi Dosen dan Tendik

Para peserta upacara bendera memperingati HUT ke-81 RI mengikuti prosesi secara khidmat di halaman Rektorat Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Suasana upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di lapangan Rektorat Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Senin (17/08/2026), berlangsung khidmat sekaligus hangat. Selain mengibarkan Sang Saka Merah Putih, dan memberi apresiasi atas prestasi mahasiswa, dan dosen, momen kemerdekaan kali ini juga diwarnai penyerahan apresiasi setinggi-tingginya bagi tenaga pendidik (dosen), serta tenaga kependidikan (tendik) yang telah mengabdi hingga empat dekade.

Penghargaan masa bakti 20, 30, hingga 40 tahun diserahkan langsung oleh Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., di hadapan seluruh peserta upacara. Pada kesempatan yang sama, institusi juga menganugerahkan piagam atas dedikasi dan kontribusi luar biasa kepada dua dosen: Wahyu Panji Asmoro, ST., MT., yang berhasil meraih posisi Runner Up dalam Mixmax 2.0 Tennis Tournament di Sanur, Bali 2026, serta Dr. Aladin Eko Purkuncoro, ST., MT., atas kiprahnya di bidang pendidikan sebagai anggota Dewan Pendidikan Kota Malang.

Dalam amanatnya yang mengutip arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto, Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi harus hadir sebagai kampus berdampak yang menjadi ujung tombak kemandirian bangsa.

Baca Juga : VCC ITN Malang Raih Dua Medali Emas di KICC: Bukti Konsistensi Prestasi Internasional

“Pak Menteri menyampaikan bahwa perguruan tinggi adalah ujung tombak inovasi dan kemandirian bangsa. Kita tidak boleh tinggal diam. ITN Malang harus terus membangun inovasi, menguasai teknologi, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar Indonesia makin mandiri,” tegas Rektor.

Momen Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., foto bersama para mahasiswa berprestasi. (Foto: Humas ITN Malang)

Secara khusus, Rektor juga memberikan rasa hormatnya kepada para dosen dan staf yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk keberlangsungan kampus teknik swasta terkemuka di Jawa Timur ini.

“Kami sangat mengapresiasi para tenaga pendidik dan kependidikan yang ikut membangun ITN Malang dari waktu ke waktu. Harapannya, pengabdian panjang ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan pelayanan, loyalitas, dan inovasi demi kemajuan ITN Malang ke depan,” tambahnya.

Pengabdian 40 Tahun: Menyaksikan Pasang Surut Kampus

Di antara deretan penerima penghargaan, ada sosok Drs. Mujiono, MT., dosen Teknik Mesin S1 yang menerima piagam pengabdian 40 tahun. Mujiono bercerita, perjalanan karirnya di ITN Malang dimulai sejak tahun 1983 sebagai staf Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK).

“Waktu pertama masuk saya masih lulusan SMA, lalu melanjutkan kuliah lagi. Baru di tahun 1992 saya diangkat menjadi dosen dan dipercaya mengajar Matematika,” kenang Mujiono.

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D. (tengah), berfoto bersama Drs. Mujiono, MT., dosen Teknik Mesin S1 (paling kanan) dan para dosen penerima penghargaan masa bakti 40 tahun. (Foto: Humas ITN Malang)

Sepanjang empat dekade, Mujiono telah mengarungi berbagai dinamika kampus. Mulai dari menjabat Kepala Pengajaran, Kepala Laboratorium, Ketua Prodi D-3 Teknik Industri, hingga mengajar di Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

“Apresiasi dari institusi ini sangat berharga bagi kami. Saya ini mengikuti perjalanan ITN Malang dari zaman mahasiswanya masih sedikit, sampai meledak jumlahnya di era 90-an. Sekarang regulasi menuntut dosen minimal S-3, peluang jenjang karir ke Guru Besar juga makin terbuka luas. Semoga ITN terus mencetak generasi unggul,” ungkapnya.

Dari Lulusan SMP Hingga Mengabdi di 5 Era Rektor

Kisah tak kalah menyentuh datang dari Solikin, satu-satunya tenaga kependidikan yang mencatat masa bakti 40 tahun. Masuk pertama kali pada tahun 1984 bermodalkan ijazah SMP, Solikin merintis karirnya benar-benar dari nol.

“Dulu belum ada batasan minimal ijazah seperti sekarang. Saya masuk lulus SMP, lalu sambil kerja saya melanjutkan sekolah ke SMK sampai sempat kuliah. Tapi prinsip saya, kerja tetap nomor satu karena dari gaji itulah saya bisa membiayai sekolah,” kenangnya.

Baca Juga : Borong 8 Medali, Mahasiswa ITN Malang Unjuk Gigi di Malang Edu Fest 2026

Selama 40 tahun, Solikin telah melayani di berbagai unit kerja, mulai dari staf BAAK, administrasi rektorat mendampingi era rektor pertama hingga rektor ke-5, lembaga kerja sama, hingga kini bertugas di Perpustakaan Pusat ITN Malang. Bagi Solikin, kunci bertahan puluhan tahun adalah keikhlasan dalam melayani.

“Saya tentu berterima kasih sekali, bersyukur, dan bahagia. Dulu tidak pernah menyangka bakal sampai 40 tahun di sini,” tuturnya.

Ia pun memberikan pesan menyentuh bagi junior-juniornya sesama staf kependidikan. Menurutnya, pelayanan kepada mahasiswa adalah hal yang paling utama.

“Bagaimana kita memberi pelayanan cepat dan sebaik mungkin. Mari kita rangkul dan ayomi mahasiswa dengan baik, bagaimanapun kita butuh mereka. Kalau mahasiswa merasa dilayani dengan hati, ITN Malang pasti akan makin berjaya,” pungkas Solikin. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023