Pelihara Keberagaman, Kapel Santo Thomas Aquinas adakan Misa Inkulturasi Flores

Umat Katolik Kapel St. Thomas Aquinas di lingkungan Kampus 2 ITN Malang mengikuti perayaan misa inkulturasi adat Flores, NTT, Minggu (21/11/2021). (Foto: Mita/humas)


Malang, ITN.AC.ID – Umat Katolik Unit Pastoral Kapel St. Thomas Aquinas mengadakan perayaan misa inkulturasi adat Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di lingkungan Kampus 2 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Minggu (21/11/2021).

Civitas Akademika ITN Malang berbaur dengan umat dari empat lingkungan Paroki Santo Albertus de Trapani Malang: Santo Rafael, Santo Gregorius Agung, Santa Theresia, dan Santo Stefanus, beserta tamu yang hadir. Umat yang datang kebanyakan mengenakan pakaian adat Flores. Namun, terlihat juga ada yang mengenakan pakain adat daerah lain seperti Jawa, Kalimantan, Sumatera, dll. Simbol keragaman tersebut bersatu dalam keindahan suasana misa inkulturasi yang berlangsung.

Misa inkulturasi merupakan perpaduan antara perayaan ekaristi dengan kebudayaan daerah. Nuansa budaya sangat kental terasa mulai dari dekorasi ruangan, pakaian2 adat yang dikenakan imam/romo dan umat maupun musik liturginya.

Romo Bertolomeus Agustinus Soko Kowe, CDD selaku romo moderator kaum muda/mahasiswa Keuskupan Malang menyampaikan rasa bahagiannya bisa memberi homili dalam perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam di Kapel St. Thomas Aquinas. “Di momen misa yang istimewa ini, saya merasa bahagia bisa memberi homili. Mari kita membuka diri, belajar mengasihi sesama, belajar untuk bersyukur, karena dengan bersyukur membuat hidup kita bahagia,” ajak Romo Tino akrab disapa.

Dalam homili Romo Tino menyampaikan bahwa Yesus merupakan raja semesta alam. Raja dalam bahasa Inggris adalah K-I-N-G. Yang merupakan singkatan dari, Kasih, Iman, Nubuat, dan terakhir Gaya Hidup. Dengan penjabaran ‘K’ artinya Yesus adalah kasih, yang tidak membeda-bedakan dalam memberi kasih kepada setiap orang. ‘I’ artinya iman, di mana mujizat itu kerap terjadi karena Yesus adalah Allah, mengimaniNya memiliki peranan yang sangat penting. ‘N’ adalah Nubuat, di mana kehadiran Yesus di dunia sudah menjadi nubuat sejak dulu. Sementara ‘G’ adalah gaya hidup.

“Gaya hidup ini yang paling menarik. Kata anak muda sekarang adalah lifestyle. Yesus mempunyai gaya hidup yang berbeda dari orang banyak. Yesus justru memilih berpihak kepada orang tersingkir, lemah, miskin, sederhana, dan menderita” jelas romo.

Baca juga : Dalam Kenangan, Umat Katolik ITN Malang Lakukan Peringatan Arwah Semua Umat Beriman

Misa Inkulturasi adat Flores dihelat sebagai ucapan syukur tepat dua tahun terselenggaranya misa di Kapel St. Thomas Aquinas. Bertepatan juga dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dan Peringatan Hari Orang Muda Sedunia (HOMS). Maka dari itu, Misa Inkulturasi ini menjadi sarana kesaksian kepada dunia bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk terus menghadirkan kasih dan kebaikan kepada siapapun saja, tidak dibatasi oleh usia, suku, agama, bahkan jenjang pendidikan sekalipun.

Misa Inkulturasi akan dihelat setiap tahun dengan mengangkat adat yang beragam sebagai upaya melestarikan budaya nusantara. Selain itu, Kapel St. Thomas Aquinas ini berada di dalam kompleks lingkungan Kampus 2 ITN Malang yang senantiasa menjunjung tinggi pluralisme dan keberagaman nusantara. Semangat kebersamaan dan persaudaraan dalam keberagaman menjadi upaya konkrit institusi pendidikan merawat kemajemukan bangsa. Semangat ini sejalan dengan perjuangan dan kerinduan awal para perintis yang menggagas berdirinya Kapel St. Thomas Aquinas.

Yulius Dwi Laksono, ketua relawan Kapel St. Thomas Aquinas sekaligus ketua lingkungan Gregorius Agung. (Foto: Mita/humas)

Yulius Dwi Laksono, ketua relawan gereja sekaligus ketua lingkungan Santo Gregorius Agung mengatakan, umat diajak untuk berpartisipasi mengenakan pakaian adat Flores. Bahkan, untuk memberi semangat kepada umat panitia mengadakan lomba foto baju adat.

“Untuk Misa Inkulturasi kali ini kami ambil tema budaya Flores. Tapi, umat diberi kebebasan, bisa menggunakan atribut budaya daerah lain seperti budaya Jawa atau Bali dll. Karena tidak semua umat memiliki pakaian adat Flores,” kata Yulius di sela kegiatan.

Dikatakan Yulius, tujuan utama dari lomba foto adalah untuk menarik umat yang datang agar antusias menggunakan pakaian adat. Sementara, untuk fasilitas foto panitia telah menyediakan sport foto sekaligus fotografer di halaman gereja. Ia berharap kedepannya kegiatan lebih bisa terkoordinir dengan baik.

Baca juga : ITN Malang dan Masjid Muhajirin Kembali Gelar Salat Idulfitri Bersama

“Harapan kami kedepan, setiap tahun misa inkulturasi akan kami diadakan. Nanti temanya berbeda-beda sesuai budaya mana yang akan diangkat. Kemudian, setiap umat yang hadir dalam misa inkulturasi tersebut datang  dengan menggunakan pakaian adat yang mereka miliki. Inilah upaya kami untuk memberikan kesaksian bahwa Gereja hadir di tengah keberagaman yang ada”

Akhirnya, benih kebaikan awal yang telah dimulai, ditabur, dan ditanam dengan hadirnya Kapel St. Thomas Aquinas oleh para perintis awal mengundang segenap umat di wilayah kapel dan orang muda yang diwakili oleh mahasiswa untuk terus menerus merawat dan memelihara benih kebaikan tersebut dari waktu ke waktu. (me/Humas ITN Malang)

Salah satu suster terlihat sedang mengikuti lomba foto dengan mengenakan kain adat Flores. (Foto: Mita/humas)

 329 total views,  7 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC