
Keseruan Outbound Tutup Gigantik 2026 ITN Malang: Dari Bikin Strategi ‘Jalan Kepiting’ Hingga Lepas Canggung
Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., saat menutup Gigantik 2026 di Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Lapangan Basket dan Mini Soccer Kampus 2 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mendadak riuh dan penuh gelak tawa pada Kamis (03/09/2026). Ratusan mahasiswa baru yang terhimpun dalam Abhyasa 57 sibuk mengatur strategi saat mengikuti simulasi game outbound. Momen keakraban ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Gigantik 2026 ITN Malang.
Suasana haru dan lega bercampur jadi satu. Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., yang hadir melepas para mahasiswa baru mengapresiasi tinggi energi positif peserta selama tiga hari pelaksanaan PKKMB tingkat institut.
Baca juga: Buka Gigantik 2026, Rektor ITN Malang: Tidak Ada Keberhasilan Tanpa Proses dan Usaha Sungguh-Sungguh
“Tiga hari kita sudah bersama di PKKMB tingkat institut, kalian sudah saling kenal. Besok berlanjut ke tingkat prodi. Penutupan Gigantik 2026 ini luar biasa. Teman-teman Abhyasa 57 sudah menyelesaikannya dengan sangat baik dan penuh semangat. Saya melihat relasi dan pertemanan sudah terbangun, ini modal awal yang bagus. Tetap berjuang dan jadilah pemenang di ITN Malang!” tutur Rektor menyemangati.

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., saat menutup Gigantik 2026 di Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)
Keseruan di lapangan memang tidak dibuat asal main. Panitia Gigantik menggandeng Tim Santri Event Malang untuk mengemas tujuh pos permainan edukatif. Mengirimkan 25 instruktur, berbagai tantangan problem solving, leadership, hingga teamwork disajikan lewat cara yang unik.
Salah satu instruktur Santri Event, Lazatin ‘Aniqoh, menceritakan bagaimana perubahan terlihat dari para peserta. Masing-masing kelompok dituntut menurunkan ego dan saling berkomunikasi demi memecahkan tantangan.
“Awalnya masih pada canggung dan sibuk sendiri. Tapi begitu dihadapkan sama game seperti Crab, di mana mereka harus berjalan saling tumpu kaki sambil membawa bendera ke leader. Mau tidak mau harus kompak. Ada yang angkat kaki, bahkan ada yang cerdas menata sepatunya biar seimbang. Dari yang tadinya tidak saling tegur, akhirnya jadi cair dan kompak,” ungkap Lazatin.
Ia menambahkan, outbound ini tidak berfokus mencari siapa yang menang, melainkan menekankan proses penyelesaian masalah serta refleksi diri di setiap pos.

Keseruan outbound Gigantik 2026 ITN Malang melatih kekompakan dan kerja sama tim. (Foto: Humas ITN Malang)
Di balik layar, Ketua Pelaksana Gigantik 2026, Ida Soewarni, ST., MT., mengungkapkan bahwa suksesnya acara ini merupakan hasil kerja keras tim panitia yang saling melengkapi.
“Kami melakukan pemadatan waktu agar semua rangkaian bisa berjalan efektif dan selesai dengan baik. Kuncinya ada pada komunikasi dan koordinasi panitia yang luar biasa di lapangan. Harapan kami, mahasiswa baru tidak berhenti di sini. Mari eksplorasi potensi diri, baik di bidang olahraga, seni, maupun akademik. Semua wadah seperti UKM dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) siap menyalurkan bakat kalian,” terang Ida.
Kesan mendalam dirasakan langsung oleh para Abhyasa 57. Nadine GG Rodeardo Hasugian, maba Teknik Kimia asal Bali, mengaku sempat cemas sebelum masuk dunia perkuliahan.
“Bayangan awal masuk teknik itu seram, takut kakak tingkatnya judes. Ternyata sama sekali tidak! Kakak PJR baik banget, bahkan waktu hari pertama saya sempat drop, mereka cepat tanggap membantu. Apalagi pas outbound, seru banget, 100 persen asik!” kata Nadine antusias.
Senada dengan Nadine, Adam Ibnu Syakirin, mahasiswa Teknik Sipil asal Bima, menyebutkan bahwa dinamika outbound melatih ketangkasan dan kekompakan tim.

Keseruan outbound Gigantik 2026 ITN Malang melatih kekompakan dan kerja sama tim. (Foto: Humas ITN Malang)
“Materi outbound mengajarkan arti kekompakan. Di hari pertama saya hanya kenal beberapa orang, tapi gara-gara outbound dan tugas foto bareng, teman saya jadi banyak. Kampus 2 ITN ini juga luas dan segar, bikin nyaman untuk menyambut kuliah perdana bagi teman-teman FTI,” ujar Adam.
Pengalaman hangat selama Gigantik 2026 juga ditegaskan oleh Wijaya, mahasiswa baru lainnya. Ia merasa keputusan bergabung dengan ITN Malang adalah langkah tepat dalam perjalanan studinya.
“Menjadi bagian dari ITN Malang adalah salah satu keputusan terbaik saya tahun ini. PKKMB-nya informatif, edukatif, dan jauh dari kesan monoton atau ospek menegangkan. Pelayanan administrasi dan akademiknya juga sangat responsif. ITN Malang bukan cuma fokus pada akademik yang unggul, tapi juga benar-benar memperhatikan kenyamanan mahasiswanya sejak hari pertama,” pungkas Wijaya.
Usai penutupan tingkat institut ini, para Abhyasa 57 siap melanjutkan melangkah ke babak berikutnya, yaitu pengenalan kehidupan kampus di tingkat program studi masing-masing. (Mita/Humas ITN Malang)



